Rabu, 07 Juli 2010

Sejarah S.S Lazio


S.S. Lazio (Società Sportiva Lazio SpA) adalah sebuah tim sepak bola Italia yang berbasis di kota Roma, didirikan pada 9 Januari 1900. Awalnya didirikan sebagai klub atletik, seksi sepak bola dibentuk pada tahun 1902. Hingga saat ini klub Lazio membawahi berbagai cabang olah raga, antara lain baseball, kriket, dan rugby Pada musim kompetisi 2005/2006 berakhir, Lazio bersama dengan beberapa tim lain (AC Milan, Juventus, Fiorentina, dan Reggina) dijatuhi hukuman pengurangan poin akibat skandal calciopoli yang menghebohkan Italia.

Musim 1999-2000 merupakan masa emas bagi klub ini sepanjang kiprah mereka di kompetisi sepak bola profesional Italia dan Eropa dengan merebut berbagai gelar bergengsi.

Lazio memiliki rivalitas dengan tim sekota yakni A.S. Roma. Lazio dan A.S. Roma menjalani partai derby yang disebut dengan derby della capitalle ("derby antara tim ibukota"). Pertandingan dengan A.S. Roma dalam Derby Della Capitalle selalu penuh gengsi dan menghadirkan sebuah partai yang seru, untuk membuktikan tim terkuat yang ada di ibukota Italia, Roma.

Selain dengan AS Roma, Lazio memiliki rivalitas dengan klub Italia lainnya, yaitu Livorno yang disebabkan oleh perbedaan pandangan politik dari pendukung dan pemimpin klub masing-masing. Selain itu, Lazio juga memiliki rival lain, yaitu dengan Napoli.

Pendukung Lazio, selain memiliki rival juga memiliki teman dan kedekatan dengan pendukung tim lain, yaitu dengan Inter Milan, Triestina, dan Hellas Verona. Selain memiliki teman dan kedekatan dengan pendukung tim lain di Italia, Lazio juga memilikinya di Eropa, yaitu dengan suporter Real Madrid dan Chelsea

Para pendukung utama Lazio banyak yang merupakan penduduk dengan tempat domisili di utara kota Roma. Irriducibili Lazio adalah sebuah wadah untuk suporter fanatik dari klub Lazio yang terbesar dan terbanyak anggotanya di Italia. AS Roma adalah musuh abadinya

Kiper
1 Albano Bizzarri
40 Antony Iannarilli
86 Fernando Muslera
88 Tommaso Berni
- Simone Santarell

Bek
2 Stephan Lichtsteiner
3 Lionel Scaloni
11 Aleksandar Kolarov
13 Sebastiano Siviglia
25 Giuseppe Biava
26 Ştefan Radu
28 Guglielmo Stendardo
79 Riccardo Bonetto
80 Andrè Dias
87 Mobido Diakité

Gelandang
4 Fabio Firmani
5 Stefano Mauri
6 Ousmane Dabo
8 Matuzalem
15 Thomas Hitzlsperger
17 Pasquale Foggia
23 Mourad Meghni
24 Cristian Daniel Ledesma
32 Cristian Brocchi
33 Roberto Baronio
68 Christian Manfredini

Penyerang
7 Gonzalo Barreto
9 Tommaso Roochi Capitaine
10 Mauro Zárate
18 Stephen Ayodele Makinwa
20 Sergio Floccari
21 Simone Inzaghi
41 Jacopo Sciamanna
74 Julio Ricardo Cruz
81 Simone Del Nero

Read More……

Selasa, 06 Juli 2010

Analisa Juara Piala Dunia Berdasarkan Mitos dan Sejarah

Senin, 28 Juni 2010 | 09:30

Sampai tulisan ini di turunkan, Senin pagi 29 Juni 2010. Baru tim Ghana, Uruguay, Jerman dan Argentina yang sudah memastikan tempat di babak 8 besar. Setelah Ghana mengalahkan Amerika Serikat dengan skor 2-1. Uruguay menang atas Korea Selatan juga dengan skor 2-1. Jerman berhasil memulangkan Inggris dengan skor 4-1, dan Argentina sukses menekuk Mexico 3-1.

Negara yang tersisa sekarang tinggal Belanda, Spanyol, Portugal, Paraguay, Slovakia, Jepang, Chili dan Brasil.
Data-data yang terhimpun akan dipergunakan sebagai analisa, siapakah yang akan Juara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, berdasarkan mitos dan sejarah.

Kita mulai dari negara Inggris. Berdasarkan mitos dan sejarah, Inggris tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini dikarenakan mitos dan sejarah mencatat bahwa sejak bergulirnya Piala Dunia, tidak ada juara Piala Dunia dari tahun 1930 sampai 2006 yang dilatih oleh pelatih asing. Semua juara dilatih oleh pelatih lokal. Jika mitos ini terbukti maka Inggris akan gagal di Piala Dunia 2010. Karena sekarang Inggris dilatih oleh Fabio Capello, pelatih berkebangsaan Italia. Terbukti Inggris gagal di babak knock out 16 besar, kalah dari Jerman.

Berdasarkan mitos dan sejarah , Jerman tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini dikarenakan mitos dan sejarah mencatat bahwa negara yang akan menjadi juara piala dunia ke empat kalinya harus menunggu selama 24 tahun.
Jerman sudah menjuarai Piala Dunia sebanyak 3 kali (1954, 1974 dan 1990). Mitos dan sejarah yang mencatat bahwa Brasil yang menjuarai Piala Dunia 5 kali (1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002) dan Italia (1934, 1938, 1982, dan 2006). Dari data tersebut di peroleh fakta bahwa untuk menjuarai Piala Dunia yang ke empat kalinya Brasil dan Italia harus menunggu selama 24 tahun. Jika mitos ini terbukti maka Jerman akan gagal di Piala Dunia 2010. Karena sekarang baru 20 tahun dari terakhir kali Jerman menjuarai Piala Dunia.

Berdasarkan mitos dan sejarah, Spanyol tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini dikarenakan mitos dan sejarah mencatat bahwa dalam19 kali Piala Dunia dihelat tak satu pun tim yang kalah di partai perdana bisa jadi juara. Jerman (1982), Argentina (1990) dan Italia (1994) memang berhasil mencapai final setelah kalah di laga pertama namun gagal jadi juara.

Berdasarkan mitos dan sejarah, Belanda tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini dikarenakan mitos dan sejarah mencatat bahwa Belanda adalah tim yang mendapat julukan “Juara Tanpa Mahkota” yang muncul sejak totaal voetbal diperkenalkan Rinus Michels pada dekade 1970-an. Belanda selalu tampil menawan, namun naas Belanda tidak pernah menjadi juara piala dunia. Sejak keikutsertaan Belanda dalam delapan kali Piala Dunia (1934, 1938, 1974, 1978, 1990, 1994, 1998, dan 2006) prestasi terbaik Belanda hanya dua kali menjadi finalis yaitu pada tahun 1974 dan 1978. Belanda mungkin hanya akan seperti teror untuk tim peserta lain. Namun akan gagal dan kembali akan menyandang predikat, “Juara Tanpa Mahkota”.

Berdasarkan mitos dan sejarah, Jepang tidak akan menjuarai Pialan Dunia 2010. Ini dikarenakan sejarah mencatat bahwa Negara dari benua Asia belum ada yang mampu menjuarai Piala Dunia. Prestasi terbaiknya hanya Korea Selatan yang mampu menjadi juara ke empat pada tahun 2002 yang ketika itu Jepang dan Korsel sebagai tuan rumah.

Berdasarkan mitos dan sejarah, Ghana tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini juga di karenakan sejarah mencatat Negara dari benua Afrika belum ada yang mampu menjuarai Piala Dunia. Prestasi terbaiknya adalah masuk ke perempat final. Seperti sekarang Ghana (2010). Sebelumnya Senegal (2002) dan Kamerun (1990)

Berdasarkan mitos dan sejarah, Portugal, tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini dikarenakan sejarah mencatat Portugal belum pernah menjadi juara Piala Dunia. Prestasi terbaiknya adalah menjadi juara ketiga pada tahun 1966 dan menjadi juara ke empat pada tahun 2006.

Berdasarkan mitos dan sejarah, Slovakia tidak akan menjuarai Piala Dunia 2010. Ini dikarenakan sejarah mencatat Slovakia belum pernah menjadi Juara Piala Dunia. Perlu mendapat catatan khusus mengenai tim Slovakia, Slovakia bisa dibilang sebagai salah satu tim debutan yang sukses di ajang Piala Dunia.
Slovakia memastikan langkahnya ke perdelapanfinal Piala Dunia 2010 usai menyingkirkan Italia, yang adalah juara bertahan. Di dalam laga yang digelar di Ellis Park Stadium (25/6/2010) dinihari WIB tersebut, Slovakia menang dengan skor 3-2 sekaligus mengirim pulang Gli Azzurri.
Slovakia adalah tim pertama yang berhasil menyarangkan tiga gol ke gawang Italia di sebuah turnamen Piala Dunia sejak tahun 1970. Yang terakhir skuad Azzurri kebobolan 1-4 oleh Brasil yang ketika itu masih diperkuat oleh pemain legendaris, Pele. Walaupun menurut sejarah tidak akan menjadi Juara Piala Dunia. Menarik ditunggu sepak terjang Slovakia selanjutnya.

Berdasarkan mitos dan sejarah mengenai pola juara Piala Dunia diperolehlah data sebagai berikut,

PD 1930 Uruguay (Tuan Rumah) — (Juara) Uruguay - (Benua Amerika)
PD 1934 Italia (Tuan Rumah) — (Juara) Italia - (Benua Eropa)
PD 1938 Perancis (Tuan Rumah) — (Juara) Italia - (Benua Eropa)
PD 1950 Brasil (Tuan Rumah) — (Juara) Uruguay - (Benua Amerika)
PD 1954 Swiss (Tuan Rumah) — (Juara) Jerman - (Benua Eropa)
PD 1958 Swedia (Tuan Rumah) — (Juara) Brasil - (Benua Amerika)
PD 1962 Chili(Tuan Rumah) — (Juara) Brasil - (Benua Amerika)
PD 1966 Inggris (Tuan Rumah) — (Juara) Inggris - (Benua Eropa)
PD 1970 Mexico (Tuan Rumah) — (Juara) Brasil - (Benua Amerika)
PD 1974 Jerman barat (Tuan Rumah) — (Juara) Jerman Barat - (Benua Eropa)
PD 1978 Argentina (Tuan Rumah) — (Juara) Argentina - (Benua Amerika)
PD 1982 Spanyol (Tuan Rumah) — (Juara) Italia - (Benua Eropa)
PD 1986 Mexico (Tuan Rumah) — (Juara) Argentina - (Benua Amerika)
PD 1990 Italia (Tuan Rumah) — (Juara) Jerman - (Benua Eropa)
PD 1994 AS (Tuan Rumah) — (Juara) Brasil — (Benua Amerika)
PD 1998 Perancis (Tuan Rumah) — (Juara) Perancis - (Benua Eropa)
PD 2002 Jepang, Korea Selatan(Tuan Rumah) — (Juara) Brasil - (Benua Amerika)
PD 2006 Jerman (Tuan Rumah) — (Juara) Italia - (Benua Eropa)
PD 2010 Afrika Selatan (Tuan Rumah) — (Juara) ??? - (Benua ???)

Dari data diatas maka didapatilah sebentuk pola, Juara Piala Dunia tiap periode pasti selalu bergantian antara benua Eropa dan Benua Amerika, seandainya tidak berganti, Pasti itu adalah negara yang Sama (negara yang menjuarai Piala Dunia periode sebelumnya)

Jika merujuk pada sejarah tersebut bahwa tidak ada negara dari benua Eropa yang akan menjadi juara Piala Dunia kecuali Italia. Sebab Italia adalah juara Piala Dunia sebelumnya. Akan tetapi karena Italia sudah gugur sejak babak penyisihan. Maka berdasarkan mitos dan sejarah juara Piala Dunia akan direbut oleh negara dari benua Amerika.

Dominasi dari benua Amerika memang jelas terlihat, hampir semua negara dari benua tersebut lolos ke babak 16 besar kecuali Honduras. Ini salah satu bukti chance dari benua Amerika sangat besar untuk menjadi juara Piala Dunia.

Berdasarkan mitos dan sejarah—kembali lihat daftar tuan rumah dan juara Piala Dunia. HANYA Brasil yang mampu menjuarai Piala Dunia bukan hanya di benuanya sendiri yaitu Amerika (di Chili 1962, Mexico 1970 dan AS 1994) tapi juga mampu juara di benua Eropa (Swedia 1958) dan di benua Asia (Korea, Jepang 2002)

Sedangkan Uruguay dan Argentina hanya mampu juara jika Piala Dunia diselenggarakan di benua Amerika. Uruguay juara 2 kali Piala Dunia (Uruguay 1930, dan Brasil 1950) dan Argentina (Argentina 1978 dan Mexico 1986)

Jadi dari semua analisa mengenai mitos dan sejarah, baik itu soal pelatih lokal, juara yang ke sekilan kali, tidak mengalami kekalahan di pertandingan perdana, pola juara Piala Dunia, dan kesuksesan menjadi jawara di benua lain. Maka bisa disimpulkan bahwa JUARA PIALA DUNIA 2010 AFRIKA SELATAN berdasarkan mitos dan sejarah adalah BRASIL.

Seandainya analisa mitos dan sejarah ini meleset maka negara yang menjuarainya adalah Negara yang mampu menghapus mitos dan mencatat sejarah baru.
Namun jika tidak, Brasil akan melestarikan mitos dan memperpanjang sejarah emas Brasil sebagai Juara Piala Dunia untuk ke enam kalinya.

Apakah mitos ini terpelihara. hmm, Kita nantikan saja..!!!
Tunggu sampai pluit panjang akhir partai pamungkas 11 Juli 2010 nanti di Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan



Powered by The NETHERLANDS JUARANYA®

Read More……

Sabtu, 05 Juni 2010

Rasanya patut dibaca ulasan dari pak Dahlan ISkan

Ini saya dapat artikel dari teman ITB bab kerakusan sistim kapitalis Amrik dan masalah mortgage yang menggoncang Amrik dan dunia.

Artikel ini sangat bagus, mudah dibaca dan sangat akurat menggambarkannya (paling tidak seperti yang saya amati - kelebihannya, penulis bisa menyampaikan dengan enak dan gamblang).

He knows the economics and business and law.

Semoga mencerahi.

Krisis Subprime di Amerika Serikat
Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan


Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan' '
secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga,
banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter.

Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus
berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah
perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal
caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu
lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau
tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik
dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang,
sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik?
Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga
lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual
saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan
baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing
putih terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO
tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum
perburuhan, dan seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan
dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi
kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa
disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.
Mengapa?

Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.
Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian
persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima
para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George
Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti
tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk
terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus
dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru..
Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain.
Kalau tidak boleh diambil ? Beli ! Kalau tidak dijual?
Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan
berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.
Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah
happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena
dapat dukungan atau sumber dana.
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan
kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli
kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.
Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.
Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja.
Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau
negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja
ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia:
USD 2 triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu
dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS
dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak
cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat
harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah
harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat,
dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah
yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar
kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya..
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih
besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar?
Bagaimana bank bisa lebih besar ?
Bagaimana notaris bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar ?
Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?
Ada jalan baru.
Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu.
Pada 1980. pemerintah bikin keputusan yang disebut
''Deregulasi Kontrol Moneter''.
Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan
menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan
bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti.
Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,
asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang
dimanfaatkan perbankan secara nyata.
Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan
memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR,
meski tidak sama).
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil
mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan
karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang
terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di
Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan
syarat orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk
menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank
bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para
broker dan bisnis lain yang terkait.
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka,
ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya:
pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi
pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau
beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar
biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau
Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.
Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis
menjelang 1990.. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang
disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung
menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus
meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.
Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.
Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam
mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah.
Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh
menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah
itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan
rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar
itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.
Lalu, apa hubungannya dg bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena
fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku bisnis
keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah.
Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para
pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk
membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa
mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh
suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung.
Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
undang-undang perbankan yang keras.
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis
lain'' yang disebut investment banking.
Apakah investment banking itu bank?
Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas
daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:
menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan
uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin,
membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang
bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan !
Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman
tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya
kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:
kepada bank lain atau kepada sesama investment banking.
Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah
''personal banking''.
Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang
menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya
dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak
sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya
serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka
lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak
menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.
Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya
orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang
memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.
Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh
besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang
yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.
Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat
mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600.
Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan
penghematan pengeluaran.
Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,
pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari
mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.
Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai
pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.
Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari
10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita
sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang
jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan
rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak
yang gagal bayar.
Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan
rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain
itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang
beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk.
Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu
lain. Roboh semua.
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum
ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar,
memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan
masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?
Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau
menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak
USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara
Indonesia dijadikan satu.
Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan
rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan
orang Indonesia yang ''menabung'' -kan uangnya di lembaga-lembaga
investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak
banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada
Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.
Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi
salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan
Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun,
yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara
besar-besaran ke sana.
Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)

Read More……

Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?

Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?

Saat ini timbul perdebatan tentang apakah krisis global yang bersumbu dari gagalnya sistem keuangan Barat (akan) lebih hebat dari Depresi Besar -Great Depression- 1929 ataukah tidak? Dalam sebuah opini New York Times (16/2/2009) dipertanyakan apakah Amerika sudah memasuki depresi? Tentu saja dijawab oleh pemerintah Amerika Serikat TIDAK.

7 indikator yang dapat menjelaskan apakah crash dalam sistem keuangan AS belum mencapai derajat Depresi Besar, sama, ataukah lebih hebat? Berikut indikatornya

# Fakta Pertama

Penurunan pendapatan saat ini lebih buruk dibandingkan saat Amerika pertamakalinya ditimpa Depresi Besar. Pendapatan rata-rata terjun 61% lebih besar dibanding selama Depresi Besar tahun 1930-an. Jatuhnya pendapatan ini adalah yang terbesar dalam 141 tahun terakhir.


# Fakta Kedua

Kerugian konsumen lebih buruk. Kerugian yang dipicu Depresi pada masa lalu masih terbatas pada pasar saham. Tetapi sekarang kerugian bursa New York Stock Exchange sudah menghapus separu uang investor, dan ini baru puncak gunung es saja. Saham terbanyak milik masyarakat sebagai sumber tabungan pensiun telah lenyap sebagaimana mereka telah kehilangan rumah US$ 2,4 trilyun dalam satu tahun.


# Fakta Ketiga

Hutang yang jauh lebih besar. Rasio hutang pada tahun 1929 mencapai 170% PDB sedangkan saat ini lebih besar 2 kali lipat. Hutang rakyat AS kini rasionya 350% PDB 2 kali lebih banyak di banding masa Depresi Besar.

# Fakta Keempat

Derivatif. Kantor Pengawas Currency (OCC) melaporkan bahwa bank-bank Amerika sekarang memiliki derivatif yang sangat besar dan sangat berisiko sebanyak US$ 176 trilyun. Pada tahun 1929 tidak ada trasanksi derivatif.


# Fakta Kelima

Kandasnya raksasa-raksasa keuangan AS. Dalam 18 bulan pertama 1929-32, banyak bank kecil dan menengah yang bangkrut, sedangkan bank berskala besar tidak mengalami kebangkrutan. Kini, banyak raksasa-raksasa keuangan AS yang memiliki sejarah panjang mengalami kebangkrutan seperti Bear Streans, Lehman Brothers, Fannie and Freddie, Washington Mutual, dan Wachovia. Kebangkrutan para raksasa ini kemungkinan besar akan disusul oleh Citigroup dan AIG.


# Fakta Keenam

Hutang Nasional AS. Pada 1929, Amerika merupakan negara pemeri pinjaman (kreditor) dengan cadangan devisa yang besar. Sekarang, Amerika merupakan negara paling banyak hutangnya di dunia dengan ketergantungan yang tinggi terhadap dana asing. Ini artinya kesempatan pemerintah lebih terbatas untuk mendapatkan pinjaman dalam membiayai bailout institusi keuangan raksasa Amerika.


# Fakta Ketujuh

Kebangkrutan ekonomi dan krisis hutang. Beberapa indikator menunjukkan gambaran suram Amerika.

Harga rumah jatuh 18,5%
Penjualan rumah yang ada mencapai level paling rendah dalam 12 tahun
Penjualan rumah baru mencapai titik paling bawah disepanjang tahun
Secara tak terduga, keluarga Amerika yang kehilangan gaji dalam bulan Februari mencapai 697 ribu bertambah 25% dibanding Januari.

Indikator-indikator yang dipaparkan oleh Weiss ini memberitahukan kepada kita bahwa kondisi Amerika saat ini jauh lebih buruk dibanding Depresi Besar 1929.

Sementara itu, Amerika di bawah kepemimpinan Obama memasuki era “kebangkrutan fiskal”. Pada tahun ini, defisit APBN berada pada tingkat paling buruk sepanjang sejarah AS sejak Perang Dunia II tahun 1942. Defisit keuangan pemerintah Amerika mencapai 12,3% PDB AS. Dengan nilai anggaran US$ 3,6 trilyun maka defisit fiskal mencakup 48,61% APBN AS.

Hutang publik Amerika pada saat ini bertambah US$ 1.459Â trilyun atau meningkat 13,675% dari US$ 9,210 trilyun di awal tahun 2008 menjadi US$ 10,669 trilyun pada 24 Februari 2009. Rasio hutang pemerintah federal Amerika ini mencapai 76,01% PDB.

Read More……

Kapankah Bom Hutang akan Meledak?

Kapankah Bom Hutang akan Meledak?

Monday, 26 April 2010 10:21
Oleh: Nico Omer Jonckheere

Apabila Anda suka baca atau lihat berita mengenai perkembangan perekonomian dunia, mungkin saja Anda sudah bosan mendengar kabar terakhir tentang kesulitan yang dialami oleh Yunani untuk menutupi defisitnya. Tetapi suatu hal yang perlu dipahami oleh setiap investor pada saat ini adalah bahwa masalah dengan hutang publik yang berlebihan akan menjadi salah satu faktor – dan bahkan kemungkinan faktor paling dominan – yang menentukan ekonomi global dalam dasawarsa ini.

Oleh karena itu, Anda yang telah terbiasa menanamkan modal di pasar valuta asing, pasar modal, ataupun pasar komoditas sebaiknya memperhatikan persoalan ini dengan seksama. Berhubungan Amerika Serikat merupakan perekonomian terbesar di dunia dan pada umumnya mempengaruhi sekali pergerakan mata uang maupun saham dimanapun juga, akan saya coba membahas “BOM HUTANG” AS yang makin hari jadi makin menakutkan. Namun demikian apapun yang saya tulis dalam artikel ini pun berlaku untuk negara maju yang lainnya – seperti Inggris, negara yang tergabung dalam Uni Eropa, dan Jepang – karena semuanya memang menderita “penyakit” yang sama.

Hampir dibutuhkan 200 tahun untuk hutang negara AS mencapai $1 trilyun, yang terjadi pada tahun 1981. Sejak itu hutang dengan cepat membengkak ke $5 trilyunan di 2000 dan sekarang sudah melebihi $12 trilyun. Pendek kata pembuat kebijakan AS telah menambah lebih banyak hutang selama dasawarsa yang baru saja berakhir dibanding 100 tahun sebelumnya! Sungguh mengerikan memang ... dan bahkan diperkirakan hutang AS dalam 10 tahun berikutnya akan naik lebih lanjut ke $25 trilyun.

Jadi jangan heran apabila defisit sekarang adalah yang terbesar sejak Perang Dunia Kedua. Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, defisit AS pada tahun lalu yang sebesar $1,4 trilyun adalah 260% dari defisit yang diderita oleh pemerintah AS selama tahun-tahun yang terburuk dari perang tersebut.

Namun ada perbedaan yang sangat mencolok antara waktu itu dan masa kini: pada saat AS mulai bertempur, mereka tahu bahwa pada akhirnya perang pasti akan usai dan pengeluaran pemerintah akan mampu dikurangi secara signifikan. Tetapi pada saat ini, dengan biaya untuk tentara yang masih setinggi 20% dari pengeluaran AS, sebagian besar dari ongkos pemerintah ditujukkan untuk Social Security dan Medicare, yang hampir tidak mungkin dapat diturunkan. Pada kenyataan, boleh dikatakan bahwa tanggungan tersebut justru akan meningkat dari tahun ke tahun.


Apakah ada pemecahannya?
“We can’t solve problems by usingthe same kind of thinking we usedwhen we created them.”-Albert Einstein-

Apabila sebuah keluarga misalnya memiliki terlalu banyak hutang, apa yang perlu dilakukan? Tepat sekali, semua anggota dalam keluarga tersebut harus bekerjasama dengan baik untuk mengurangi pengeluaran mereka dan sebisa mungkin mencari pendapatan tambahan. Itupun sama untuk berbagai pemerintahan di dunia dimana kondisi fiskalnya benar-benar menyedihkan.
Pada dasarnya mereka punya dua pilihan: meminjam dan mencetak uang secara terus-menerus, atau mengurangi pengeluaran pemerintah dan menaikkan pajak.

Menurut hemat Anda, kira-kira pilihan apa yang akan paling disukai oleh kebanyakan orang politik? Selama ini memang terbukti bahwa mereka tidak punya rencana jangka panjang untuk mengatasi defisitnya dan cenderung memilih untuk meminjam dan mencetak uang lebih banyak lagi.


Mengapa demikian? Sebab orang politik tahu bahwa mereka akan sulit terpilih kembali apabila mengambil kebijakan yang kurang populer, dan berharap masalahnya akan selesai dengan sendiri. Namun makin lama defisit dibiarkan membengkak, suatu breaking point atau titik jenuh akan tercapai dimana pelaku pasar kehilangan kesabarannya dan pemerintah terpaksa mengambil tindakan yang diperlukan.


Hanya saja paradoksnya adalah bahwa apa yang mungkin merupakan “obat” yang tepat untuk suatu “pendosa fiskal” tidak bagus untuk setengah dari perekonomian dunia secara bersamaan. Seandainya semua negara maju mengetatkan likuiditasnya secara serentak, pemulihan ekonomi memang terancam mandek.

Peringatan dari Moody’s

Kekhawatiran mengenai pertumbuhan dari hutang nasional atau publik mendorong Moody’s Investors Service beberapa waktu lalu untuk memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan negara Barat lainnya sedang menuju makin dekat ke titik dimana mereka bisa kehilangan peringkat hutang tertinggi (Aaa) mereka. Karena perkiraan defisit anggaran kini begitu besar dan AS tetap saja melanjutkan pencetakan dolar AS lebih banyak, pada suatu saat nanti kreditor asing – seperti investor dari Cina, Jepang, dan Timur Tengah yang memiliki hampir setengah dari surat hutang AS – pada akhirnya akan meminta pengembalian atau tingkat suku bunga yang lebih tinggi sebelum mereka mau memberikan pinjaman lagi ke AS.

Tingkat suku bunga yang naik merupakan bahaya luar biasa untuk AS. Tidak hanya perusahaan akan merasakan dampaknya, tetapi juga biaya hutang nasional AS akan meningkat kedepan. Hukum majemuk dengan sendiri akan memastikan biaya hutang AS meroket dan kondisi keuangannya memasuki suatu ‘death spiral’ atau “lingkaran setan”. Secara sederhana ketika P (price atau harga) mulai beranjak naik secara bersamaan dengan Q (quantity atau jumlah), hasilnya dipastikan tidak akan menyenangkan. Dan pada saat hutang publik secara konsisten bertumbuh lebih cepat daripada perekonomian, GAME OVER.

Dengan jumlah hutang yang meledak dan pendapatan pajak yang jatuh, kecil kemungkinan AS mampu membayar kembali hutangnya. Bahkan, dengan hutang yang telah diluar kendali, tingkat suku bunga bisa naik secara signifikan ke 10% sampai 20% per tahun. Seandainya kita menerapkan suatu suku bunga sebesar 15% pada hutang senilai $25 trilyun, jumlah pembayaran bunga tahunan akan mencapai $3,75 trilyun atau sama dengan SELURUH ANGGARAN untuk tahun ini. Coba bayangkan saja ...


Implikasi terhadap investasi Anda

Pada saat ini, saya berani mengatakan akan benar-benar terkejut sekali apabila AS dan perekonomian dunia berhasil menghindarkan suatu BENCANA KEUANGAN dalam beberapa tahun kedepan. Saya sama sekali tidak melihat jalan keluar yang mudah, dan kebanyakan investor belum memikirkan masalah ini secara mendalam jadi mungkin saja mereka akan terjebak olehnya. Dari jaman dulu sampai sekarang, hutang selalu berlaku sebagai suatu pedang bermata dua. Islandia kini telah mengerti pelajaran itu dengan baik. Juga Dubai dan Yunani. Dan ... masih banyak negara yang lain – termasuk Amerika Serikat – segera akan belajar hal tersebut juga.

Pokoknya siapapun tidak dapat meminjam secara terus-menerus sejumlah uang yang melebihi pendapatannya, baik itu sebagai suatu keluarga ataupun suatu pemerintahan, tanpa menjadi bangkrut pada akhirnya. Dengan kata lain, Anda tidak dapat menyelesaikan kelebihan hutang dengan menambah hutang lagi.

Seperti dapat Anda lihat pada grafik di atas ini, puncak pertama adalah “gunung hutang” yang terakumulasi selama pada tahun 1933, yang membutuhkan sekitar the Great Depression dua dasawarsa untuk diturunkan. Sedangkan puncak yang lebih besar sebelah kanan tentunya merupakan hutang yang sedang menumpuk terus pada saat ini. Dengan $3,70 hutang untuk setiap dolar PDB (produk domestik bruto), hutang AS memang sudah sangat keterlaluan! Dan pikir-pikir ... uhm ... kira-kira berapa tahun yang akan dibutuhkan sekarang iya untuk “turun dari gunung hutang”?

Nah, pertanyaan terakhir adalah bagaimana Anda sebagai seorang investor bisa mengamankan dana Anda dari krisis kredit yang mendatang dan memanfaatkan peluang investasi yang akan muncul kedepan?

(*Penulis Vice President, Research & Analysis. Tinggal di Jakarta. Tulisan ini merupakan pengantar seminar tentang pasar modal BEI Investor Club Jakarta pada tanggal 30 Januari 2010 dan yang akan digelar 28 April di Medan)

NB: Bangtoyip juga dikasih kartu namanya hehehehehehe......






Read More……

Rabu, 19 Mei 2010

Kisah : NOKIA


Pandai-pandailah beradaptasi untuk bertahan hidup.

Perubahan Nokia dari perusahaan pembuat sepatu memancing kuno menjadi pemimpin pasar telepon seluler di sseluruh dunia, merupakan salah satu perubahan bisnis yang paling menakjubkan di abad ke-20. Saat ini, firma yang berpusat di Finlandia ini membuat 4 dari 10 telepon seluler yang terjual di seluruh dunia, mengalahkan para raksasa elektronik seperti Motorola dan Ericsson. Merek ini dipandang sebagai merek yang paling bernilai nomor 6 di dunia. Nokia merupakan pengekspor terbesar di Finlandia, mengilhami teknologi di seputar ibukotanya, dan saham-sahamnya melahirkan ribuan jutawan di negeri itu. Bagaimana Nokia mencapai sukses adalah gabungan antara kepemimpinan, keputusan rekrutmen yang brilian, penentuan waktu yang baik dan sebuah unsur karakter nasional.

Perusahaan ini didirikan 1865 ketika mereka menjalankan kilang kayu di sebuah kota kecil Nokia di Selatan Finlandia. Perusahaan perlahan berkembang ke bisnis karet, pembuatan sepatu, kabel dan kabel telepon. Pada awal 1960-an, berkat koneksinya di bidang telekomunikasi, perusahaan mulai merambah bidang telepon radio yang mulai berkembang. Pencapaian utama perusahaan pada pertengahan 1980-an adalah sebagai pemasok kertas toilet ke Irlandia dan satu-satunya produsen ban sepeda khusus musim dingin di dunia. Tahun 1987, bisnis telepon seluler Nokia yang masih berusaha berkembang mulai mengalami kerugian. Di bawah CEO Kari Kairamo, Nokia mulai mencari mitra Jepang untuk membantu membangun sebuah merek elektronik. Namun ketika negosiasi sdang berjalan pada 1988, Kairamo melakukan bunuh diri setelah mengalam depresi. Tahun 1991, Uni Soviet yang merupakan mitra dagang utama Finlandia mengalami keruntuhan, dan bisnis tradisional Nokia pun mulai goyah.

Manajemen Nokia memanggil eksekutif muda Jorma Ollila untuk melihat apakah bisnis telepon seluler mereka bisa diselamatkan. Sekalipun lahir lahir dan bersekolah di Finlandia, pada usia 17 tahun ia mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di atlantic College, kemudian mengambil gelar MBA di London School of Econnomics dan bekerja di kantor perwakilan Citibank di London, dimana dia bertanggungjawab atas akun Nokia

Ollila bergabung dengan Nokia tahun 1985, kemudian menjadi kepala keuangan setahun kemudian. Pada 1990 dia menjadi kepala divisi telepon seluler dan dalam 6 bulan ia memutuskn untuk mempertahankannya. Dia mengunjungi pabrik di Oslo dan mengetahui soal kesulitan perusahaan dalam menyiapkan standar komunikasi seluler digital baru untuk Eropa, GSM. Ollila merampingkan proses itu dengan begitu sukses, sehingga pada 1992 dia ditunjuk sebagai CEO.

Seorang manajer muda Nokia, Matti Alahuhta diijinkan belajar ke sekolah bisnis di Swiss demi merancang masa depan perusahaan. Dia menyimpulkan bahwa yang Nokia butuhkan adalah sebuah pergeseran teknologi yang Nokia dapat lakukan duluan dan gunakan untuk meraih keuntungan. Ollila percaya kalau telepon seluler akan mewabah, sehingga penting bagi perusahaan untuk melakukan pertaruhan.

Para investor menyukai menyukai pendekatan baru ini, sehingga Nokia mengumpulkan cukup banyak uang di AS dan perusahan siap meninggalkan bisnis-bisnis lainnya. Ollila tahu Nokia harus dibangun menjadi sebuah merek. Ollila menyewa perancang Nuovo mendesain Nokia, yang melahirkan bentuk yang melengkung mulus, layar lebar, dan papan kunci yang intuitif. Nokia berharap dapat menjual model 2100 sebanyak 400000 buah, namun terjual 20 juta buah dan memberi keuntungan 1 miliar dolar AS.

Nuovo bergabung sebagai kepala desain pada 1995, saat Nokia menerapkan fase kedua dan penting dai strategi merek mereka: diferensiasi. Nokia menyadari mereka dapat menjual telepon berbeda untuk masing-masing orang. Jadi Nokia membuat telepon dengan warna berbeda, casing yang dapat ditukar, lusinan nada dering berbeda, bahkan menyesuaikan diri dengan sangat baik dimana telepon seluler menjadi pernyataan fashion. Dalam 5 tahun, nilai sahamnya meningkat nyaris 2000%.

Selama era 1990-an, Nokia mengembangkan budaya koorporat yang memungkinkan setiap departemen melakukan cara mereka sendiri dan mengembangkan ide-ide dari mana pun di dalam organisasi. Untuk menjaga meritokrasi tetap terkendali, dibentuklah sebuah tim manajemen yang bertindak sebagai penjaga gerbang. Frank Nuovo misalnya, akan menandatangani semua keputusan besar tentang desain.

Nokia berpendapat bahwa sebagai merek dominan denga penjualan terbesar dalam industrinya, mereka berada di posisi terbaik untuk mengeksploitasi teknologi baru kemanapun arahnya. (q2_phat)

Read More……

Alasan Orang Yahudi Pintar

Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi.

Mengapa Orang Yahudi, rata-rata pintar ? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :

Ternyata, bila seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika, mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.

Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).

Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan, karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging, hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.

Yang istimewa lagi adalah : Di Isarel, merokok itu tabu! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”. Walaupun, kalau kita perhatikan, maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi! Tetapi yang merokok, bukan orang Yahudi.

Anak-anak, selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Mereka juga harus pandai bahasa, minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.

Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design “Levis” terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas “business and fashion“.

Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk “fokus” dalam berpikir!

Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat berbisnis kelas dunia. Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka. Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, “research and development” khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi. Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.

Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel, bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasai yang “Bodoh” dan “Dungu”.

Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua. Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar! Tinggal, pertanyaannya adalah, apakah kepintarannya itu banyak manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup umat manusia secara keseluruhan.









Read More……